Cerita Inspirasi (Orang Lain)

Posted by: made.kusuma4910 in Academic No Comments »

2. Cerita Inspirasi ( Orang Lain )

Hari jumat 3 September 2010 sore hari, saya dan 2 orang teman saya, yang satu sesame dari Bali,yang satunya lagi berasal dari Bali tetapi menetap di Jakarta bermaksud untuk pulang ke Bali karena liburan panjang, tetapi sebelum itu kami mampir terlebih dahulu ke rumah teman kami yang berada di Jakarta ini. Perjalanan kami dari Bogormenuju Jakarta diguyur hujan sepanjang jalan, tak pelak itu membuat pakaian kami lumayan basah, tak tak cukup unutk menyurutkan niat kami yang sudah bulat untuk pergi ke Jakarta.

Setelah kurang lebih selama 3 jam, kami akhirnya sampai di Jakarta, tepatnya di rumah teman saya tersebut. Sambutan hangat kedua orang tuanya seakan menghilangkan rasa lelah dan penat yang kami alami sepanjang perjalanan. Dengan senyuman hangat, beliau mempersilahkan kami masuk kedalam rumahnya dan menuju salah satu kamar yang akan kami “pinjam” selama 2 hari ke depan. Tak berselang lama, kedua orang tua teman saya tersebut dating membawa sebuah bungkusan hitam dan meletakkannya di atas sebuah meja dekat kamar pinjaman kami tersebut. Dan seperti yang kami perkirakan, kami diberikan jamuan makan. Meskipun sederhana tetapi bermakana sangat dalam bagi kami karena di kedatangan kami yang belum genap satu jam atau bahkan setengah jam,kami sudah disuguhi hidangan yang sangat enak untuk disantap. Kami juga di berikan potongan buah, biscuit dan berbagai jamuan makanan yang tentunya sedikit membuat kami merasa malu, karena terkesan begitu merepotkan di awal kedatangan kami tersebut. Dengan suara yang sopan beliau berkata kalau anggaplah rumahnya itu seperti rumah sendiri, jangan canggung, jangan merasa asing, apapun yang kamu inginkan, ambil saja, begitu kira-kira maksud perkataan beliau. Hal ini sedikit melegakan saya, yang pada awal tadi merasa teramat sangat canggung.

Dengan masih sedikit malu-malu kami berusaha menikmati haidangan yang telah disediakan oleh beliau. Disinilah insiden kecil terjadi. Tanpa sengaja saya menjatuhkan piring yang saya pakai untuk makna hingga pecah dan berserakan. Sungguh kesan pertama yang sangat buruk dan betapa bodohnya saya ini, begitu kesan pertama yang timbul dalam pikiran saya. Dengan perasaan yang amat bersalah, saya memungut pecahan piring tersebut dibantu oleh dua orang teman saya tersebut. Kemudian datanglah kedua orang tua teman saya itu, dalam benak saya, saya akan dimarahi. Tetapi prediksi saya meleset 180 derajat. Karena beliau hanya berkata, jangan merasa bersalah, tidak apa-apa, ambil saja piring lain lagi. Saya merasa amat malu dan tentunya masih merasa sangat bersalah. Keesokan harinya, kami telat bangun karena kelelahan akan perjalanan kemarin. Beliau juga tak memarahi kami, malahn beliau sibuk measak dengan tujuab memberikan kami sarapan pagi. Beberapa lama kemudian kami dipanggil dan memakan sarapan pagi yang dibuat oleh orang tua teman saya tersebut. Setelah itu kami berkeliling-keliling untuk melihat ramainya kota Jakarta sembari bermain-main. Keesokan harinya kami diajak berkeliling kota Jakarta oleh beliau. Diperjalanan kami diberikan nasihat-nasihat, motivasi-motivasi yang selama ini jarang saya dapatkan. Beliau juga mengajak kami bersembahyang dan memahami agama dengan baik. Perkataan-perkataan beliau memang sangat memotivasi dan mendidik kami untuk menjadi orang yang lebih baik. Kami juga di ajak untuk mengunjungi rumah kerabatnya. Disana kami kembali diberi jamuan makan. Suasana kekeluargaan seketika tumbuh meskipun kami tak memiliki hunbungan darah sedikitpun, tetapi kata beliau, kami sudah dianggap seperti anaknya sendiri.

Ketika sore tiba dan kami harus berangkat munuju bandara untuk pulang ke Bali, kami di antar sampaibandara. Dalam perjalanan kami kembali diberikan nasihat dan pelajaran yang teramat sangat saying jika tidak kami dengar. Beliau juga menunggui kami di bandara. Hingga waktu kami berangkat pun tiba, saya seakan tak rela untuk meninggalkan beliau seperti orang tua saya sendiri. Dengan langkah yang berat, kami berpamitan dan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada beliau yang selam dua hari telah memperlakukan kami seperti anaknya sendiri. Dari pengalaman saya ini saya bisa mengambil hikmah dari kedua orang tua teman saya tersebut termasuk teman saya itu. Mereka sangat menghargai orang lain, mereka juga tak pandang bulu. Meskipun beliau tak mengenal asal-usul kami, tetapi beliau tetap memperlalukan kami dengan amat baik. Terima kasih saya ucapka kepada beliau dan keluarganya semua. Semoga cerita ini memberi inspirasi baru!

Cerita Inspirasi (Diri Sendiri)

Posted by: made.kusuma4910 in Academic No Comments »

1.Cerita Inspirasi ( Diri Sendiri )

Malam itu, senin tanggal 9 Agustus 2010 sekitar pukul 23.30 malam, semuanya terasa biasa saja. Kenyamanan belajar bersama teman-teman asrama di asrama seakan tak menghiraukan waktu, entah itu seperti sekarang yang sudah amat larut malam dan semestinya merupakan waktu untuk tidur beristirahat. Kebetulan pula, keesokan harinya yaitu tanggal 10 Agustus 2010 merupakan hari ujian praktikum kimia untuk matrikulasi sehingga saya dan teman-teman yang mendapat matrikulasi kimia berlomba-lomba untuk mempersiapkan diri demi nilai yang memuaskan untuk menunjang nilai imia pada nantinya melalui ujian praktikum ini. Tanpa terasa, jam sudah menunjukan pukul 24.00, kami juga sudah mulai mengantuk dan mata seakan sudah merayu-rayu untuk segera diistirahatkan. Tak lama kemudian kami semua kembali ke kamar masing-masing, termasuk saya yang kembali ke kamar yang di dalamnnya telah terlihat 2 orang teman baru saya yan tidak mendapat ujian di keesokan harinya telah tertidur pulas. Tanpa pikir panjang lagi, saya langsung menuju tempat tidur kesayangan saya untuk merebahkan badan sambil berharap-harap cemas akan situasi ujian besok.

Setelah mata mulai terpejam, tiba-tiba tanpa ada gejala apapun sebelumnya perut saya terasa sakit melilit, seakan-akan perut ini diaduk-aduk dan diinjak-injak tanpa ampun karena sakitnya yang terasa sangat luar biasa. Pada awalnya saya mengira ini merupakan gejala diare, tetapi sepengetahuan saya gejala diare tak separah ini. Jam demi jam berlalu sakit di perut saya ini tak kunjung hilang, kantuk yang tadi begitu deras melanda, seketika sirna tergantikan pekatnya rasa sakit di perut yang saya rasakan. Saya mencoba meminum obat tradisonal yang saya bawa dari Bali, tetapi sakitnya malah makin menjadi. Perasaan bercampur aduk, di satu sisi saya merasakan sakit yang luar biasa, disisi lain saya mesti beristirahat unutk ujian praktikum besok tetapi tak bisa. Dalam pikiran saya hanya pasrah, semoga sakit ini cepat berlalu dan saya biosa beristirahat kembali, tapi apa daya, sakit ini malah makinmenjadi jadi. Hingga ayam berkokok pertanda pagi sekitar jam 04.00 saya masih merasakan sakit yang begitu merajalela. Hingga jam 05.00, salah satu teman sekamar saya terbangun. Dan seketika itupun ia terkejut melihat keadaan saya yang merintih kesakitan. Tanpa bertanya apa-apa ia langsung mengambilkan saya air minum, dan meminumkannya ke saya. Sekejap ia menghilang keluar, ternyata ia mencarikan saya obat sakit perut dengan menggedor-gedor kamar teman selorong. Ketika ia kembali ke kamar lagi dalam genggamannya sudah ada obat yang didapatnya dari salah satu teman. Ia menyuruh saya untuk meminum obat itu dengan segelas air di tangannya. Setelah itu saya dengan senang hati meskipun dengan perut yang tetap masih sakit meminum obat tersebut. Sungguh saya sangat berterima kasih dengan sahabat yang baru saya kenal selama kurang lebih seminggu tersebut. Setelah obat itu saya minum, masih terasa sakitnya perut ini. Makin cemas perasaan saya.

Tak beberapa lama datanglah teman sebelah kamar saya yang mengetahui situasi saya, kembali tanpa saya suruh, iya membawakan saya pemanas air yang setelah itu digunakan untuk menghangatkan air untuk minum saya. Menurutnya kalau minum air hangat, sakit perut bisa berkurang. Kemuadian saya meminum air hangat trsebut sedikit demi sedikit dan ternyata benar, sakit di perut saya sedikit berkurang meskipun hanya sementara. Kembali saya mengucapka terima kash yang sebesar-besarnya kepada teman saya ini.

Karena hari itu ujian, saya memaksakan diri untuk pergi ke laboratorium kimia untuk mengikuti ujian yang ijadwalkan berlangsung mulai jam 08.00 sampai 08.35. hanya pikiran yang kosong yang saya bawa ke ruang ujian, menjawab soal dengan rasa sakit pada perut, sungguh tidak bisa berkonsentrasi. Semuanya saya pasrahkan saja karena saya sudah berusaha semaksimal mungkin. Kembali, ada salah satu teman saya yang melihat wajah saya yang pucat dan dengan sigap ia menanyakan keadaan saya. Setelah saya jelaskan, tanpa basa-basi lagi, ia langsung menuntun saya ke motornya dan membawa saya ke poliklinik IPB. Disana antrian cukup panjan, ia masih rela menunggui saya hingga akhirnya saya masuk dan divonis terkena infeksi usus. Dari raut wajahnya, ia seakan turut merasakan apa yang saya alami ini. Kemuadian ia juga mengantarkan saya kembali ke asrama dan menyuruh saya untuk beristirahat. Sungguh teman yang begitu baik, dan saya kembali berterima kasih banyak karenanya.

Melalui pengalaman imilah saya menyadari betapa pentingnya persahabatan. Teman yang baru saya kenal tak lebih dari seminggu sudah dengan begitu ikhlasnya membantu saya ketika sedang dalam kesusahan. Mereka rela unutk membantu saya tanpa saya minta dan suruh sekalipun. Pengalaman ini sungguh menginspirasi saya untuk selalu berbuat ikhlas dan membantu teman yang berada dalam kesusahan. Dan tentunya menjadi teman yang selalu ada dikala susah maupun senang.

Semoga cerita dari pengalaman saya ini juga menginspirasi anda semua.